Takziah Ke Keluarga Mas Kelik (alm)

Tidak ada yang tahu kapan kita akan dipanggil oleh Gusti, apakah itu pagi, sore, malam, atau pada hari-hari yang kita anggap biasa—Senin, Selasa, dan seterusnya. Yang tahu hanyalah Allah Sang Pencipta, Maha Penyayang dan Maha Mengatur segalanya. Kehidupan ini begitu rapuh dan penuh ketidakpastian, dan hari itu, kami diingatkan akan kerapuhan itu dengan cara yang sangat menyentuh hati.

Kami mengenang teman kami, Mas Kelik, alumni angkatan 79, sosok dengan senyum hangat dan keceriaan yang menular. Ketika pengurus alumni mengadakan acara Syawalan di sekolah, beliau selalu menyapa dan akan hadir. Bahkan, saking antusiasnya, Mas Kelik pernah memetik buah alpukat dan mengumpulkannya hingga satu karung penuh hanya untuk dibagikan kepada teman-teman saat acara Halal Bihalal di Sekolah. Sikapnya yang sederhana namun penuh perhatian itu selalu membuat kehadirannya terasa istimewa bagi setiap orang yang mengenalnya.

Namun, Allah ternyata mempunyai rencana lain. Pada pagi, sehari sebelum acara Syawalan, sekitar pukul 11, kami menerima kabar yang sangat mengejutkan dan menyedihkan: Mas Kelik telah dipanggil pulang oleh Allah, Sang Maha Kasih. Rasa kehilangan begitu mendalam menyelimuti kami, namun sebagai orang beriman, secara spontan seluruh panitia yang hadir saat itu mengangkat doa khusus, memohon agar Allah melapangkan kuburnya, mengampuni dosa-dosanya, dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.

Satu hari setelah acara Syawalan, kami menyempatkan diri untuk berziarah ke rumah keluarga Mas Kelik. Dua mobil berisi sekitar dua belas orang dari panitia berangkat untuk menyampaikan bela sungkawa secara langsung. Setibanya di rumahnya, kami disambut dengan hangat oleh keluarga yang tengah berduka. Kehadiran kami bukan hanya sebagai teman lama, tetapi juga sebagai perpanjangan tangan hati yang penuh rasa kasih dan hormat kepada Mas Kelik.

Di sana, mewakili seluruh alumni, kami secara resmi menyampaikan rasa bela sungkawa, memberikan talik kasih, dan berbagi doa untuk kedamaian jiwa Mas Kelik (alm). Momen itu sarat dengan kesedihan, namun juga penuh rasa syukur atas kehidupan dan kebaikan yang beliau tinggalkan bagi kami semua. Kami mengenang senyum, keceriaan, dan perhatian beliau—momen-momen sederhana seperti membagikan buah alpukat, yang kini menjadi kenangan berharga dan pelajaran tentang kebaikan hati yang tulus.

Kisah Mas Kelik mengingatkan kami semua bahwa hidup ini sementara, dan setiap detik adalah karunia yang harus disyukuri. Betapa pun sibuknya kita, penting untuk terus menjaga silaturahmi, saling menyayangi, dan menghargai setiap momen bersama orang-orang yang kita cintai. Semoga Mas Kelik (alm) ditempatkan di sisi Allah yang paling baik, dan semoga kenangan indah beliau selalu hidup dalam hati kami, sebagai pengingat akan arti persahabatan, kebaikan, dan kehangatan yang tulus.