Dalam setiap organisasi, terutama organisasi yang lahir dari kenangan, perjuangan, dan ikatan batin seperti alumni, ada satu hal yang sering kali lebih penting daripada jabatan dan program kerja: yaitu unggah-ungguh dan etika.
Organisasi bukan sekadar struktur. Ia adalah rumah. Dan rumah hanya akan kokoh jika penghuninya saling menjaga rasa.
Makna Unggah-Ungguh dalam Berorganisasi
Unggah-ungguh bukan hanya tentang sopan santun dalam berbicara. Ia adalah kesadaran posisi. Kesadaran kapan harus menyampaikan pendapat, bagaimana menyampaikannya, dan kepada siapa kita berbicara.
Unggah-ungguh mengajarkan bahwa:
– Kritik bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguatkan.
– Perbedaan bukan untuk memecah, tetapi untuk memperkaya.
– Jabatan bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk melayani.
Dalam kepengurusan, ada aturan, ada mekanisme, ada tanggung jawab yang disepakati bersama. Semua itu bukan untuk membatasi, tetapi untuk menjaga marwah organisasi. Tanpa aturan, dinamika berubah menjadi kegaduhan. Tanpa etika, semangat berubah menjadi ambisi pribadi.
Ketika Kepengurusan Tidak Berjalan
Setiap organisasi pasti mengalami masa lelah. Ada masa di mana program tidak bergerak, komunikasi tersendat, dan semangat menurun. Di titik inilah karakter kita diuji. Apakah kita memilih:
– Menggerutu dari luar?
– Menjelekkan dari belakang?
– Atau bahkan meninggalkan dan membangun kepengurusan baru demi terlihat berbeda?
Atau kita memilih jalan yang lebih dewasa: memberikan masukan dengan niat membangun.
Memberi masukan bukan berarti melawan. Memberi kritik bukan berarti membenci. Justru di situlah wujud kepedulian.
Organisasi yang sehat bukan organisasi yang tanpa kritik, tetapi organisasi yang kritiknya disampaikan dengan adab dan diterima dengan lapang dada.
Jika ada yang kurang berjalan, mari kita dorong bersama. Jika ada yang keliru, mari kita luruskan bersama. Karena tujuan kita bukan membuktikan siapa yang benar, melainkan menjaga agar organisasi tetap hidup.
Bahaya Ego dalam Komunitas
Kadang yang merusak bukan masalah besar, melainkan ego kecil yang dipelihara.
Keinginan untuk tampil beda.
Keinginan untuk dianggap paling mampu.
Keinginan untuk memulai sesuatu hanya karena tidak sepakat dengan yang ada.
Padahal, mendirikan sesuatu yang baru tanpa menyelesaikan yang lama sering kali bukan solusi, melainkan pelarian.
Organisasi bukan panggung untuk menunjukkan siapa paling bersinar.
Ia adalah ladang pengabdian yang menuntut kerendahan hati.
Ketika Kepengurusan Berjalan Baik
Sebaliknya, ketika kepengurusan berjalan dengan baik, etika kita pun diuji.
Apakah kita:
– Hanya menjadi penonton?
– Atau ikut terlibat dan mendukung?
Sikap saling memiliki bukan hanya hadir ketika keadaan sulit, tetapi juga ketika semuanya berjalan baik. Mendukung bukan berarti selalu setuju.
Terlibat bukan berarti selalu memimpin. Kadang cukup dengan hadir, membantu, dan menjaga suasana tetap hangat.
Itulah yang disebut rasa memiliki.
Organisasi adalah Cermin Kedewasaan
Organisasi mencerminkan siapa kita sebenarnya. Jika kita mudah memecah, mungkin kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kita mudah menyalahkan, mungkin kita belum belajar memahami.
Namun jika kita mampu menahan diri, menyampaikan dengan santun, dan tetap bertahan meski tidak selalu sepaham di situlah kedewasaan tumbuh.
Komunitas alumni bukan sekadar kumpulan nama. Ia adalah ruang silaturahmi, ruang mengenang, dan ruang membangun masa depan bersama.
Mari kita jaga:
– Adab dalam berbicara
– Etika dalam bertindak
– Niat dalam berkontribusi
Karena organisasi akan bangkit bukan oleh satu orang yang paling vokal, tetapi oleh banyak orang yang saling peduli.
Pada akhirnya, yang membuat organisasi bertahan bukan jabatannya, tetapi rasa saling memiliki.
Dan rasa itu hanya tumbuh dari hati yang rendah, pikiran yang jernih, serta komitmen untuk tetap bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Semoga kita menjadi bagian dari mereka yang memilih membangun, bukan meninggalkan. Memperbaiki, bukan memperuncing. Menguatkan, bukan memecah.
Karena di situlah nilai sejati sebuah organisasi dijaga.
Kahana240226