Setiap orang punya tempat untuk pulang.
Bagi kami, Keluarga Besar Alumni Instindo, tempat pulang itu bernama almamater.
Instindo bukan hanya gedung, bukan hanya nama di ijazah.
Ia adalah saksi perjalanan. Saksi saat kita datang dengan mimpi besar dan hati yang penuh tanya. Saksi saat kita belajar bahwa gagal bukan akhir, dan teman adalah keluarga yang kita pilih sendiri.
Di kelas, di laboratorium, di kantin sekolahan, kita ditempa.
Bukan hanya oleh materi pelajaran, tapi oleh nilai-nilai yang tak tertulis: jujur, kerja keras, saling menolong.
Ada guru yang menegur karena peduli. Ada teman yang berbagi catatan di detik terakhir. Ada tawa yang mengusir penat. Dari situlah kita belajar menjadi manusia sebelum lulus.
Lalu waktu membawa kita pergi.
Ijazah di tangan, jalan pun bercabang. Ada yg lanjut sekolah lagi sampai kuliah.
Ada yang berkarir di kota, ada yang membangun usaha di kampung, ada yang mengabdi sebagai pendidik.
Jabatan berbeda. Cerita berbeda. Tapi satu hal yang tidak pernah berubah: rasa bangga ketika disebut “Alumni Instindo”.
Karena almamater sejatinya tidak pernah lulus.
Ia hidup di dalam cara kita bekerja.
Ia hidup di dalam cara kita memperlakukan orang.
Ia hidup di dalam keputusan-keputusan kecil setiap hari.
Menjaga nama baik almamater bukan dengan pidato.
Tapi dengan integritas.
Bekerja jujur. Berbisnis amanah. Menolong tanpa pamrih.
Karena di luar sana, orang akan menilai bukan hanya siapa kita,
tapi juga dari mana kita ditempa.
Itulah mengapa silaturahmi antar alumni penting.
Grup WhatsApp, reuni, kegiatan sosial, mentoring untuk adik kelas…
Semua itu adalah cara kita menyalakan kembali api.
Api semangat, api kepedulian, api untuk terus memberi manfaat.
Bagi adik-adik yang masih berjuang di bangku sekolah:
kejar ilmu setinggi mungkin, tapi jangan tinggalkan adab.
Bagi para alumni:
raih sukses setinggi mungkin, tapi jangan lupa menoleh ke belakang.
Karena pada akhirnya,
yang membuat sebuah institusi besar bukanlah gedungnya.
Bukan akreditasinya.
Tapi orang-orang yang membawa nama itu ke masyarakat.
Dengan karya, dengan akhlak, dengan manfaat.
Instindo adalah rumah kedua.
Rumah yang pintunya selalu terbuka untuk pulang.
Rumah yang mengingatkan kita:
dari mana kita mulai, dan untuk apa kita harus terus melangkah.
Mari kita jaga rumah ini bersama.
Dengan karya. Dengan doa. Dengan kebaikan.
Oleh : Slamet Sugito