Sepertinya kalimat itu sudah menjadi semacam jargon kecil di antara kami. Setiap kali grup alumni mulai ramai dengan pesan-pesan singkat yang penuh emotikon gunung, kopi, dan tawa, kami tahu: waktunya piknik lagi.
Bagi sebagian orang, piknik mungkin hanya sekadar jalan-jalan. Namun bagi kami, lintas alumni yang dipersatukan oleh kenangan masa sekolah, piknik adalah ruang untuk bernapas, tertawa, dan merawat silaturahmi yang tak lekang oleh waktu. Di sela kesibukan pekerjaan, keluarga, dan rutinitas yang tak ada habisnya, piknik menjadi cara sederhana untuk menyehatkan tubuh sekaligus menyegarkan jiwa.
Beberapa kelompok kecil dari lintas alumni memang rutin mengadakan kegiatan seperti ini. Tidak perlu acara besar atau seremonial panjang. Cukup sepakat tanggal, menentukan lokasi, lalu berangkat dengan semangat kebersamaan. Kali ini, pilihan jatuh pada sebuah tempat yang tak hanya indah, tetapi juga menantang: Thol Kayangan, yang terletak di daerah Magelang.
Pagi itu, udara terasa lebih segar dari biasanya. Kabut tipis masih menggantung ketika kami mulai menapaki jalur menuju puncak. Tawa kecil terdengar di antara langkah-langkah yang kadang terengah, kadang penuh canda. Ada yang dengan semangat memimpin rombongan, ada yang setia di barisan belakang memastikan tak ada yang tertinggal.
Perjalanan mendaki Thol Kayangan bukan sekadar soal mencapai puncak. Ia adalah tentang proses. Tentang bagaimana kami saling menyemangati ketika jalan mulai menanjak, tentang tangan yang terulur membantu teman yang hampir terpeleset, tentang jeda istirahat yang diisi dengan cerita-cerita lama—kisah masa sekolah yang selalu terasa segar meski telah puluhan tahun berlalu.
Sesampainya di atas, semua rasa lelah seakan terbayar lunas. Hamparan perbukitan hijau terbentang luas. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah dan pepohonan. Dari ketinggian, kami memandang dunia dengan sudut yang berbeda—lebih tenang, lebih lapang.
Di situlah kami duduk melingkar, membuka bekal sederhana yang dibawa dari rumah. Tidak ada hidangan mewah, tetapi terasa begitu nikmat karena disantap bersama. Canda tawa kembali pecah, sesekali diselingi foto bersama dengan latar pemandangan yang memesona.
Ada yang berkata, “Ternyata kita masih kuat juga ya mendaki.”
Yang lain menimpali, “Yang penting bukan kuatnya, tapi kebersamaannya.”
Kalimat itu sederhana, tetapi begitu dalam maknanya.
Piknik seperti ini bukan hanya soal olahraga atau wisata. Ia adalah terapi alami. Menurunkan stres, menguatkan jantung, menggerakkan otot, dan yang tak kalah penting, menghangatkan hati. Dalam perjalanan seperti ini, sekat-sekat usia, latar belakang, dan kesibukan seakan luruh. Yang tersisa hanyalah persaudaraan.
Thol Kayangan hari itu menjadi saksi bahwa kebahagiaan tidak selalu harus mahal atau rumit. Kadang ia hadir dalam langkah yang pelan, dalam nafas yang tersengal namun penuh tawa, dalam segelas kopi hangat yang dibagi di puncak bukit.
Dan seperti biasa, sebelum turun, sudah ada suara yang berseru,
“Bulan depan kita piknik ke mana lagi?”
Semua tertawa.
Karena kami tahu, selama kaki masih mampu melangkah dan hati masih ingin bertemu, maka piknik akan selalu menjadi alasan untuk kembali berkumpul. Piknik lagi… dan piknik lagi… bukan sekadar kegiatan, tetapi tradisi kecil yang menjaga kami tetap sehat, tetap dekat, dan tetap bersaudara.
[ngg src=”galleries” ids=”2″ display=”imagebrowser” maximum_entity_count=”500″]