Berbeda Cara, Tetap Saling Menghormati

Menjadi bagian dari sebuah organisasi alumni bukan hanya tentang nama, jabatan, kepengurusan, ataupun kegiatan yang dilaksanakan. Lebih dari itu, organisasi alumni adalah sebuah wadah untuk menjaga hubungan yang sudah terjalin sejak masa sekolah. Di dalamnya ada kenangan, persahabatan, rasa memiliki, dan perjalanan panjang yang mempertemukan kembali orang-orang yang pernah belajar dan tumbuh bersama di almamater yang sama.

Karena itu, ketika berbicara tentang organisasi alumni, sesungguhnya kita tidak sedang berbicara tentang sesuatu yang berdiri sendiri. Di balik sebuah organisasi ada manusia, ada perasaan, ada sejarah, dan ada hubungan pertemanan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun.

Dalam perjalanan sebuah organisasi, perbedaan pendapat tentu merupakan sesuatu yang wajar. Setiap orang mempunyai pemikiran, karakter, pengalaman, dan cara pandang yang berbeda. Bahkan dalam sebuah keluarga sekalipun, perbedaan pendapat tidak mungkin selalu bisa dihindari. Yang terpenting bukan bagaimana kita menghilangkan perbedaan, tetapi bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut dengan bijaksana.

Begitu pula dalam tubuh organisasi alumni. Ada kalanya kita tidak sepakat dengan sebuah keputusan. Ada kalanya program yang dijalankan tidak sesuai dengan harapan kita. Ada pula saat ketika cara seseorang menjalankan organisasi terasa kurang sesuai dengan apa yang kita pikirkan.

Semua itu manusiawi.

Namun, perbedaan pendapat sebaiknya tidak serta-merta membuat kita merasa harus berhadapan satu sama lain. Ketidaksetujuan terhadap sebuah keputusan tidak berarti kita harus tidak menghargai orang yang mengambil keputusan tersebut. Kritik terhadap sebuah program juga tidak harus berubah menjadi kritik terhadap pribadi seseorang.

Di sinilah kedewasaan dalam berorganisasi benar-benar diuji.

Berbeda Cara Tidak Berarti Harus Berpisah

Kita perlu memahami bahwa berada dalam satu almamater tidak berarti semua orang harus mempunyai cara berpikir yang sama. Justru keberagaman pemikiran itulah yang membuat sebuah komunitas menjadi hidup.

Ada yang lebih senang kegiatan sosial. Ada yang lebih menikmati kegiatan olahraga. Ada yang aktif dalam pertemuan dan kopdar. Ada pula yang lebih nyaman berkontribusi di belakang layar. Semua mempunyai cara masing-masing untuk menjaga hubungan dengan sesama alumni.

Perbedaan cara tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh.

Satu tubuh tidak harus selalu bergerak dengan cara yang sama. Tangan mempunyai fungsi yang berbeda dengan kaki. Mata mempunyai fungsi yang berbeda dengan telinga. Namun semuanya tetap berada dalam satu tubuh dan saling melengkapi.

Begitu pula dengan alumni.

Kita boleh memiliki kegiatan yang berbeda, komunitas yang berbeda berdasarkan minat atau angkatan, bahkan mempunyai cara komunikasi yang berbeda. Namun semuanya tetap mempunyai satu titik temu: kita adalah bagian dari keluarga besar almamater yang sama.

Karena itu, ketika muncul perbedaan, alangkah baiknya kita tidak buru-buru melihatnya sebagai pertentangan.

Organisasi Tandingan Bukan Jalan Keluar

Dalam sebuah organisasi, mungkin saja muncul rasa kecewa, ketidakpuasan, atau perbedaan pandangan. Perasaan tersebut tentu boleh ada dan patut dihargai. Tetapi bagaimana cara kita menyikapinya menjadi hal yang jauh lebih penting.

Membentuk organisasi tandingan bukanlah solusi yang selalu menyelesaikan persoalan. Justru langkah tersebut berpotensi memperkeruh suasana, memperlebar perbedaan, dan membuat hubungan yang selama ini dibangun melalui pertemanan menjadi semakin jauh.

Jika ada perbedaan pendapat atau ketidakpuasan, alangkah baiknya hal tersebut diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka, dialog, dan musyawarah. Duduk bersama sering kali jauh lebih baik daripada berjalan sendiri-sendiri sambil membawa rasa kecewa.

Jangan sampai persoalan yang sebenarnya masih bisa dibicarakan bersama justru berkembang menjadi sekat-sekat yang akhirnya memisahkan teman dengan teman, angkatan dengan angkatan, atau bahkan saudara dengan saudara.

Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita saling berhadapan.

Kalaupun kemudian diperlukan sebuah komunitas atau wadah baru karena kebutuhan tertentu, hendaknya keberadaannya diarahkan untuk menambah manfaat, memperluas silaturahmi, dan memberikan ruang bagi kegiatan positif. Bukan dibangun dengan semangat untuk menandingi, mengalahkan, atau menggantikan pihak lain.

Sebab organisasi seharusnya menjadi ruang untuk menyatukan, bukan alasan untuk membuat kubu-kubuan.

Pada akhirnya, yang perlu kita jaga bukan hanya nama atau keberlangsungan sebuah organisasi, tetapi juga hubungan baik dan pertemanan yang sudah terjalin sejak lama.

Jangan Sampai Organisasi Mengalahkan Persaudaraan

Ada kalanya kita terlalu sibuk mempertahankan organisasi sampai lupa bahwa sebelum menjadi pengurus, anggota, atau bagian dari sebuah kepengurusan, kita adalah teman.

Kita pernah duduk di kelas yang sama. Pernah bercanda bersama. Pernah bermain bersama. Pernah saling membantu. Pernah melewati masa sekolah dengan cerita yang mungkin tidak akan pernah terulang lagi.

Jangan sampai semua kenangan itu kalah oleh perbedaan yang sebenarnya masih bisa dibicarakan.

Nama organisasi bisa berubah. Struktur kepengurusan bisa berganti. Jabatan bisa berpindah. Program bisa selesai. Bahkan sebuah kepengurusan pada akhirnya akan memiliki masa akhir.

Tetapi persahabatan seharusnya tidak berhenti hanya karena perbedaan dalam organisasi.

Karena itu, mari kita belajar menempatkan sesuatu pada porsinya. Organisasi adalah wadah. Persaudaraan adalah hubungan antarmanusia yang jauh lebih luas daripada sebuah struktur organisasi.

Menghargai Sejarah dan Mereka yang Pernah Berjuang

Setiap organisasi mempunyai sejarah. Ada orang-orang yang memulai, merintis, menghidupkan, dan mempertahankannya dalam perjalanan waktu. Mungkin tidak semuanya tercatat secara lengkap. Mungkin tidak semua kontribusi mereka diketahui oleh generasi berikutnya.

Namun, bukan berarti perjuangan tersebut tidak memiliki arti.

Menghargai mereka yang pernah berjuang bukan berarti kita harus selalu sepakat dengan semua keputusan mereka. Menghormati sejarah juga bukan berarti kita tidak boleh melakukan perubahan.

Justru perubahan yang baik seharusnya tetap berdiri di atas penghargaan terhadap apa yang sudah dibangun sebelumnya.

Kita boleh memperbaiki. Kita boleh memberikan gagasan baru. Kita boleh mempunyai cara yang berbeda. Tetapi jangan sampai dalam proses tersebut kita merasa perlu menghapus, merendahkan, atau meniadakan apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang sebelum kita.

Sebab organisasi hari ini adalah bagian dari perjalanan panjang yang dibangun oleh banyak orang.

Tidak Perlu Ada Perlombaan

Dalam kehidupan alumni, sebenarnya tidak ada yang perlu diperlombakan.

Tidak perlu berlomba siapa yang paling banyak kegiatan. Tidak perlu berlomba siapa yang paling aktif. Tidak perlu berlomba siapa yang paling banyak anggota. Dan tidak perlu pula berlomba untuk membuktikan siapa yang paling benar.

Alumni bukan pertandingan.

Ketika satu kelompok mengadakan kegiatan sosial, kelompok lain bisa memberikan dukungan. Ketika ada kegiatan reuni, kelompok lain dapat ikut meramaikan. Ketika ada alumni yang membutuhkan bantuan, tidak seharusnya kita bertanya terlebih dahulu ia berasal dari kelompok mana.

Karena pada akhirnya, ia tetap teman kita.
Jika setiap kegiatan membawa manfaat, mengapa harus dipertentangkan?
Jika setiap komunitas membawa kebaikan, mengapa harus saling merasa terancam?
Bukankah akan jauh lebih indah jika keberagaman tersebut justru menjadi kekuatan untuk memperluas persaudaraan?

Belajar Dewasa dalam Perbedaan

Kedewasaan dalam berorganisasi bukan terlihat dari seberapa keras kita mempertahankan pendapat. Kedewasaan justru terlihat dari kemampuan kita untuk tetap menghargai orang lain ketika pendapat kita tidak diterima.

Kita tidak harus selalu menang dalam sebuah perdebatan.

Kadang-kadang, menjaga hubungan baik jauh lebih penting daripada memenangkan argumen.

Ada saatnya kita berbicara. Ada saatnya kita mendengarkan. Ada saatnya kita menyampaikan kritik. Tetapi ada pula saatnya kita memilih menahan diri agar persoalan tidak semakin besar.

Bukan berarti kita tidak mempunyai prinsip.

Justru orang yang mempunyai prinsip seharusnya mampu menyampaikannya dengan cara yang tetap menghargai orang lain.

Karena kata-kata yang disampaikan dengan emosi mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan, tetapi dampaknya bisa bertahan jauh lebih lama.

Jangan Wariskan Perbedaan kepada Generasi Berikutnya

Hal lain yang tidak kalah penting adalah jangan sampai persoalan hari ini menjadi warisan konflik bagi alumni generasi berikutnya.

Generasi setelah kita mungkin tidak mengetahui secara utuh bagaimana sebuah persoalan bermula. Mereka hanya mungkin mendengar cerita dari satu sisi, kemudian membawa cerita tersebut ke masa depan.

Akhirnya, orang-orang yang bahkan tidak terlibat dalam persoalan awal ikut mewarisi jarak dan ketidaknyamanan yang sebenarnya bukan milik mereka.

Alangkah baiknya jika yang kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan cerita tentang siapa yang pernah berselisih, tetapi cerita tentang bagaimana para alumni mampu menyelesaikan perbedaan dengan dewasa.

Bukan tentang siapa yang menang.

Bukan tentang siapa yang kalah.

Tetapi tentang bagaimana kita tetap bisa duduk bersama meskipun pernah berbeda pendapat.

Satu Almamater, Banyak Warna, Satu Persaudaraan

Pada akhirnya, kita semua kembali kepada satu hal sederhana: kita pernah berada di tempat yang sama, belajar di almamater yang sama, dan menjadi bagian dari perjalanan yang sama.

Waktu mungkin sudah membawa kita ke berbagai arah. Kehidupan membuat kita mempunyai pekerjaan, keluarga, lingkungan, dan kesibukan masing-masing. Tetapi ketika berbicara tentang almamater, ada satu ikatan yang tidak perlu dibuat-buat.

Kita adalah alumni.

Karena itu, mari kita rawat organisasi dengan cara yang sehat. Mari kita hormati perbedaan tanpa harus menciptakan permusuhan. Mari kita sampaikan kritik tanpa merendahkan. Mari kita menyampaikan ketidakpuasan melalui komunikasi dan musyawarah, bukan dengan membangun sekat yang semakin menjauhkan.

Jika ada persoalan, mari kita cari jalan keluarnya bersama.

Jika ada perbedaan, mari kita bicarakan dengan kepala dingin.

Jika ada kekurangan, mari kita perbaiki.

Dan jika ada keberhasilan, mari kita rayakan sebagai keberhasilan bersama.

Sebab tidak ada gunanya membangun sesuatu dengan cara meruntuhkan yang lain.

Kita boleh berjalan di jalan yang berbeda, tetapi tetap saling menyapa.

Kita boleh mempunyai kegiatan yang berbeda, tetapi tetap saling mendukung.

Kita boleh mempunyai pandangan yang berbeda, tetapi tetap saling menghormati.

Dan jika suatu saat kita memilih berada dalam wadah yang berbeda, jangan sampai pilihan itu membuat kita lupa bahwa kita pernah menjadi teman.

Satu almamater, banyak warna, satu persaudaraan.

Karena pada akhirnya, yang paling berharga dari sebuah organisasi bukan hanya struktur yang tertulis di atas kertas, melainkan manusia-manusia di dalamnya yang tetap mau menjaga silaturahmi.

Organisasi boleh berbeda, cara boleh berbeda, pendapat boleh berbeda. Tetapi persaudaraan jangan sampai berbeda arah.

Mari kita jaga organisasi.

Mari kita jaga sejarah.

Tetapi yang paling utama, mari kita jaga persaudaraan.

Oleh : Kahana

By

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x